BUKU PEDOMAN NASIONAL PEMBERANTASAN PENYAKIT KUSTA PDF

Latar Belakang Konon penyakit kusta telah menyerang manusia sejak SM dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuno, Mesir kuno, dan India pada organisasi kesehatan dunia WHO memperkirakan terdapat dua atau tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta. Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan dibelahan dunia ,seperti India,dan Vietnam. Pengobatan yang efektif pada kusta ditemukan pada akhir an dengan diperkenalkanya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga bakteri penyebab lepra sertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar, hal ini terjadi hingga ditemukan pengobatan multi obat pada awal an dan penyakit inipun mampu ditangani kembali. Tujuan Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut : a.

Author:Yozshukus Dusida
Country:Indonesia
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):28 March 2010
Pages:60
PDF File Size:16.14 Mb
ePub File Size:2.12 Mb
ISBN:383-5-60922-865-4
Downloads:8473
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Dirisar



Nama tersebut berbeda karena daerah yang berbeda menyebutkan lain, seperti pathala di Sondwa dan Korh dan Kala Vaa di Thandla Bhopal, Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh mikroorganisme intraseluler atau kuman Mycobacterium leprae M. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan tubuh serta menimbulkan masalah psikososial akibat masih adanya stigma dan persepsi masyarakat yang jelek pada penderitanya Jopling, Penyebarannya terutama di benua Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Jumlah yang tercatat Pada milinium ini telah ditemukannya Di Indonesia diperkirakan kasus kusta mencapai per Lepra ini dapat mengenai semua kelompok umur, bahkan pernah ditemukan pada bayi usia 2,5 bulan dan lansia diatas 70 tahun Harahap, Sumber penularan kusta adalah penderita kusta tipe lepromatosa yang belum mendapat pengobatan.

Keluarganya yang serumah dengan penderita kusta lepromatosa mempunyai resiko tertular kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tinggal tidak serumah.

Sedangkan penderita tipe tuberkuloid mempunyai kemampuan menularkan pada orang lain yang serumah sekitar 2 kali dari yang tidak serumah. Resiko penularan kepada anaknya lebih dominan dibandingkan resiko terhadap pasangan hidupnya Agusni, Penularan kusta yang sebenarnya masih belum seluruhnya terungkap.

Selain itu juga pada lesi kulit nodular yang pecah bisa ditemukannya banyak kuman M. Seterusnya M. Monosit berperan sebagai kuda troya yang akhirnya pecah lalu kuman masuk ke sel Schwan tepatnya di perineum Boddingius, Sebelum tahun dapat terlihat pada gambar 2. Pada tahun terdapat 88 negara yang melakukan program eliminasi tercatat adanya penurunan jumlah kusta, yaitu 1 per Di tahun terdapat 9 negara yang tercatat kasus kusta pada prevalensi rata-rata 2.

Sejak tahun sampai sekarang sudah lebih dari 12 juta penderita kusta telah mendapatkan pengobatan MDT morel C. M, Penyakit kusta banyak menyerang pada masyarakat golongan sosio ekonomi rendah. Keadaan ini dikaitkan dengan gizi yang buruk dan dapat mengakibatkan rendahnya daya tahan tubuh secara umum. Faktor lingkungan serta hygiene yang tidak baik selalu ditemukan pada tempat penderita yang terinfeksi M.

Mycobacterium leprae telah ditemukan sejak tahun yang lalu, istilah zaraath yang merupakan Bahasa Ibrani kuno juga mengartikan sebagai kusta. Di dalam kitab-kitab kuno dari Tiongkok Da Feng terdapat adanya tulisan pada daun lontar, sedangkan di zaman Mesir kuno eber paptyrus telah tertuliskan mengenai penyakit yang sekarang kita sebut lepra. ETIOLOGI Penyebab penyakit kusta oleh karena Mycobacterium leprae, yaitu kuman yang bersifat gram positif, berbentuk batang lurus atau melengkung, ukuran panjang mikron, diameter 0,2 — 0,5,mikron dan mempunyai sifat pleomorfik.

Mycobacterium leprae termasuk golongan Basil Tahan Asam BTA bila dilakukan pewarnaan Ziehl Neelsen, namun dalam mengikat warna merah dari karbol Fuchsin tidak sekuat Mycobacterium tuberculosis Agusni, Mycobacterium leprae, mempunyai 5 lima sifat penting yang perlu diketahui yaitu : Merupakan organisme obligat endogeous dan tidak bisa dibiarkan dalam media buatan Sifat mengikat asamnya dapat diekstraksi dengan pyridine Mampu mengoksidasi zat D—dihydroxy phenylalanine D — DOPA Mengivansi sel schwan dari system saraf tepi terutama di perineum Permukaan membrane mengandung phenolic glycolipid I PGL-I dan lipoarabinomannan LAM Shimoji Yang, Sering kali penderita tidak menyadari adanya proses penyakit di dalam tubuhnya.

Umumnya penduduk yang tinggal di daerah endemis mudah terinfeksi, namun banyak orang punya kekebalan alamiah dan tidak menjadi penderita kusta Agusni, Mycobacterium leprae seterusnya bersarang di sel schwann yang terletak di perineum, karena basil kusta suka daerah yang dingin yang dekat dengan dengan kulit dengan suhu sekitar C.

Kemampuan adesi tersebut merupakan cara invasi basil kusta pada perineum, sel schwnn sendiri merupakan sejenis fagosit yang bisa menangkap antigen seperti M. Sel schwann seterusnya mengalami kematian dan pecah, lalu basil kusta dikenali oleh sistem imunitas tubuh host, tubuh melakukan proteksi melalui 2 dua aspek yaitu imunitas non-sepesifik dan spesifik, makrofag menjadi aktif memfagosit dan membersihkan dari semua yang tidak dikenali non-self.

Ternyata makrofag mampu menelan M. Limfosit akan membantu makrofag untuk menghasilkan enzim dan juices agar proses pencernaan dan pelumatan berhasil. Keadaan tersebut merupakan penderita yang sudah lanjut dan sudah dipastikan lepra tanpa pelaksanaan diagnostik yang cukup. Bentuk keluhan bervariasi mulai dari keluhan anestesi di kulit, anesthesi pada tangan dan kaki. Kelainan pada kulit bisa berupa bercak kulit yaitu macula anaesthetica, penebalan kulit papula atau plakat , nodula maupun ulcer.

Pada saraf tepi biasanya timbul penebalan saraf yang disertai peradangan neuritis. Umumnya ditemukan dalam 2 dua bentuk Pause basiler PB dan Multi basiler MB dan menurut WHO untuk menentukan kusta perlu adanya 4 empat kriteria yaitu : Ditemukannya lesi kulit yang khas. Adanya gangguan sensasi kulit.

BTA positif dari sediaan sayatan kulit. S, Klasifikasi Madrid tersebut memutuskan bahwa penyakit kusta dibagi atas : tipe indeterminate, tipe tuberkuloid, tipe lepromatosa dan tipe borderline dimorphous.

Bisa dari kekebalan paling rendah seorang penderita sampai pada kekebalan yang tinggi. Menurut klasifikasi ini terdapat 5 lima tipe klinik penyakit kusta yang erat hubungannya dengan sistem kekebalan yaitu tipe polat tuberkuloid TT , tipe borderline tuberkuloid BT , tipe mid borderline Lepromatous BL dan tipe polar lepromatous LL.

Konsep ini dapat digunakan untuk menentukan keadaan imunitas yang stabil dan keadaan imunitas yang labil, dimana pada tipe polar tuberkuloid dan polar lepromatosa merupakan keadaan imunitas yang stabil sedangkan tipe borderline lepromatosa, mide lepromatosa dan bordeline tuberkuloid merupakan keadaan imunitas yang lebih.

Klasifikasi WHO Sejak program eliminasi kusta dilaksanakan secara merata di seluruh dunia oleh WHO dengan memperkenalkan MDT, maka klasifikasi kusta perlu ada standarisasi dengan lebih disederhanakan, oleh karena itu WHO menyepakati untuk membagi menjadi 2 dua tipe yaitu : Norihisa Ishii, R, Pengertian Kusta reaktif suatu gangguan yang berupa munculnya secara spontan proses akut dari suatu penyakit pada perjalanan penyakit yang sebenarnya kronik.

Kusta reaktif adalah merupakan reaksi tubuh yang hebat terhadap suatu invasi bakteri atau antigen, dimana menimbulkan manifestasi klinis yang sangat hebat, yang dapat digolongkan menjadi 2 dua tipe yaitu : Tipe 1 :Reaksi Reversal, ini merupakan contoh imunopatologi reaksi hipersensitivitas tipe IV.

Manifestasi Kusta Reaktif Pada kusta reaktif dapat muncul gejala seperti malaise, cefalgia, arthralgi dll. Lebih rinci dapat dibagi dalam 3 tiga tipe yaitu : Reaksi Reversal Gejala klinik reversal umumnya terdapat rasa nyeri dan terderness pada saraf, adanya neuritis dan inflamasi yang begitu cepat pada kulit. Keadaan yang dulunya hipopigmentasi menjadi eritema, lesi eritema makin menjadi eritematosa, lesi macula menjadi infiltrate, yang infiltrate makin infiltratif dan lesi lama makin bertambah luas Birke JA, Reaksi ENL Gejala yang muncul seperti nyeri dan tenderness disertai panas tinggi dan malaise.

Lesi kulit berupa pustular dan ulseratif diikuti dengan hilangnya fungsi saraf. Perkembangan tipe ini sampai terjadi iridocylitis, oechitis, nefritis dengan albuminuria yang disertai non-pitting oedema. Erythema nodosum leprosum dapat berkembang menjadi perbaikan setelah mendapatkan kontrikosteroid,secara histologi ditemukannya foamy histiocyte, dan limfosit tidak banyak Koshy S, Fenoemena Lucio Terjadinya ulseratif yang tidak layak, vaskulitis yang hebat, terdapat macula dan plakat yang disertai nyeri dan adanya nekrotik jaringan, bulu mata hilang, rambut menjadi rontok dan alopesia, bagian distal tubuh mengalami anaesthesia, destruksi rhinitis dan nodul kulit tidak kelihatan.

Timbulnya panas badan, limfadenopati, splenomegali dengan limfopenia, mikrositik anemia, hipoalbuminemia dan hipokalsemia, keadaan ini dalam kondisi akut dapat mengakibatkan kefatalan Rutledge, B.

J, Potassium idide merupakan faktor presipitasi, pada tipe ENL lebih banyak terjadi pada pengobatan tahun kedua. Kompleks imun terus beredar di dalam sirkulasi darah yang akhirnya dapat bersarang diberbagai organ seperti kulit dan timbul gejala klinis yang berupa nodul, eritema dan nyeri dengan predileksi di lengan dan tungkai. Pada organ mata akan menimbulkan gejala iridosiklitis, pada saraf perifer gejala neuritis akut, pada kelenjar getah bening gejala limfadenitis, pada sendi nefritid yang akut dengan adanya protein urin Murata, Tipe reversal dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan destruksi saraf yang bersifat irreversibel, sehingga mengalami ketidakmampuan dalam fungsi organ normal, kondisi diperberat dengan cell mediated immunity gagal menghadapi antigen Mycobacterium leprae Eric Spierings, Dikutip dari tulisan Dr.

Suparyanto, M. Kes Diposting oleh.

EUROPA MODERNIDAD Y EUROCENTRISMO ENRIQUE DUSSEL PDF

MAKALAH "PENYAKIT KUSTA"

Leprosy is a chronic skin disease caused by acid-fast bacteria, Mycobacterium lepraewhich initially attacks the outer nerves and then, if not treated appropriately, spreads to other organs like the skin, the mucous glands, the kidneys, the testes, and the eyes: PWHHL especially those who are severely crippled depend both physically and financially on others and end up in poverty. Based on the above, it can be seen that after the EG Tabib learnt the true facts about leprosy from the pocket book and training provided by the researchers working with the Nagan Raya Health Service, the role of these Tabibs in controlling leprosy in Nagan Raya increased greatly. The Journal of Immunology, Role in Handling Leprosy The results from Table 1 show that in the buuku there was no significant difference between the two groups of Tabibs concerning the role of the Tabibs in the management of leprosy. Then after their pretest the EG were trained on identifying and managing leprosy and were given a copy of the nasionxl book that had been prepared [ 6 ]. National Center for Biotechnology InformationU. Profil Kesehatan Provinsi Aceh Tahun. Incidence of ocular morbidity among multibacillary leprosy patients during a 2 year course of multidrug therapy.

ENTICK V CARRINGTON PDF

Buku Pedoman Kusta 2012

Latar Belakang Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare, malaria, demam berdarah dengue, influensa, tifus abdominalis, penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Beberapa penyakit tidak menular yang menunjukkan kecenderungan peningkatan adalah penyakit jantung koroner, hipertensi, kanker, diabetes mellitus, kecelakaan dan sebagainya. Hingga saat ini penyakit menular dan tidak menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya angka kesakitan dari penyakit menular dari tahun ke tahun dan berubahnya pola penyakit tidak menular yang sekarang berkembang telah menunjukkan terjadinya kecenderungan masalah kesehatan yang biasa disebut transisi epidemiologi.

Related Articles